Sejarah awal mula Karapan Sapi nggak ada yang tau pasti, tapi berdasarkan sumber lisan yang diwariskan turun temurun, diketahui Karapan Sapi dilatar belakangi oleh tanah Madura yang kurang subur buat lahan pertanian. Suatu hari, seorang ulama Sumenep, Syeh Ahmad Baidawi (Pangeran Katandur) ngenalin cara bercocok tanam dengan menggunakan sepasang bambu yang dikenal masyarakat Madura dengan sebutan nanggala atau salaga yang ditarik pakai dua ekor sapi. Jadi awalnya mau manfaatin tenaga sapi sebagai pengolah sawah gitu, deh..
erangkat dari ketekunan bagaimana cara ia membajak sapi bekerja mengolah tanah persawahan yang berhasil dan tanah tandus pun berubah menjadi tanah subur dan membawa hasil positif, tentu masyarakat desa mengikuti jejak Pangerannya. Akhirnya tanah di seluruh Papua Sapudi yang semula gersang jadi tanah subur yang bisa ditanami padi. Hasil panenpun berlimpah ruah dan jadilah daerah yang subur makmur.
Setelah masa panen tiba sebagai ungkapan kegembiraan atas hasil panen yang melimpah Pangeran Katandur punya inisiatif ngajak warga di desanya untuk ngadain balapan sapi. Area tanah sawah yang udah dipanen dimanfaatin jadi arenanya. Akhirnya tradisi balapan sapi gagasan Pangeran Katandur itu yang sampai sekarang terus berkembang dan dijaga kelestariannya. Cuma namanya aja yang diganti jadi lebih populer: “Karapan Sapi”.
Buat mereka yang mau ikutan lomba Karapan Sapi harus ngeluarin kocek yang nggak dikit buat melatih dan merawat sapi-sapi yang bakal bertanding. Buat ngebentuk tubuh sepasang sapi yang mau ikut Karapan, diperlukan biaya sampai Rp 4 juta biar sapi-sapinya sehat dan kuat. Sapi-sapi juga dikasih aneka jamu dan puluhan telur ayam per hari sampai menjelang hari Karapan. Itung-itung perbaikan gizi, ya… Hehehe…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar